Thursday, July 18, 2024

Indonesian version: Tangisan

Tetapi Maria berdiri dekat kubur itu dan menangis. Sambil menangis ia menjenguk ke dalam kubur itu. – Yohanes 20:11.


Pexels.com
 

Saudara-saudara yang terkasih, hari ini ialah tanggal 16 Juli, kita merenungkan peristiwa Maria Magdalena yang mengunjungi makam kosong dan merasa sangat sedih karena dia mengira bahwa seseorang telah mengambil Yesus dari makam tersebut. 

 

Damai hanya dimiliki oleh orang-orang yang rendah hati yang setiap hari berusaha mendekatkan hati mereka kepada Tuhan meskipun mereka merasa tidak layak. Ketika kita dengan tak kenal lelah memohon kepada Tuhan akan anugerah pengampunan atas semua pelanggaran yang telah kita lakukan, menyadari semua kelemahan kita dan menyerahkan diri sepenuhnya pada kehendak-Nya, maka saat itulah anugerah Tuhan bekerja. Makam kosong itu seperti hati kita yang jauh dari Tuhan, seperti jiwa kita yang tandus yang selalu jauh dari sumber air kehidupan, yaitu Yesus sendiri. 

 

Dua malaikat penjaga makam mengingatkan kita pada suara hati kita sendiri yang adalah suara hati Nurani kita; suara batin yang selalu mengingatkan kita bahwa kita harus bisa menjauh dari perbuatan jahat dan harus melakukan serta menjaga semua perbuatan baik. Jika kita tidak pernah mengasah hati Nurani atau suara batin kita, jika kita terus mengabaikannya, maka kita secara alami akan merasa tandus, jiwa kita akan sangat jauh dari kedamaian. 

 

Yesus, menegur Maria Magdalena yang begitu sedih dan menangis, dalam kehidupan sehari-hari Dia juga menegur dan menyapa kita. Dia menunggu kita datang kepada-Nya. Tuhan sangat merindukan kita untuk bisa pulang kapan saja, bahkan hanya untuk satu menit. Tuhan menunggu kita untuk bersyukur kepada-Nya, bukan mengeluh. Tuhan ingin melihat kita sabar dan kuat dalam menghadapi masalah hidup, bukan sebaliknya merasa putus asa. Sesungguhnya, tidak pernah terlambat untuk memulai hidup kita yang baru lagi, tidak terlambat untuk bangkit dari setiap kejatuhan. 

 

Marilah, segera pulang dan cari Yesus yang dikira penjaga taman oleh Maria Magdalena, agar hati kita selalu damai dan tidak tandus serta kering seperti makam kosong. 

Tuhan memberkati. 

 

Refleksi dari Yohanes 20:11-20 ole Sr. Yanti Purnawati SFSC


(Dengarkan podcastnya disini) 

Wednesday, July 17, 2024

Plorans | Weeping | EN | IN |

But Mary was standing outside at the tomb weeping. So as she wept, she stooped and looked into the tomb- John 20:11


Photo by Pexels.com

Dear brethren, today is July 16, we reflect on the incident of Mary Magdalene who visited the empty tomb and felt very sad because she thought that someone had taken Jesus from the tomb.


Peace is only possessed by humble people who try every day to draw their hearts closer to God even though they feel they do not deserve it. When we tirelessly ask God for the grace of forgiveness for all the offenses we have committed, realize all our weaknesses and surrender ourselves completely to His will, then that’s the time God's grace, works.  An empty tomb is like our heart which is far away from God, it’s just like our barren soul which is always away from the source of life-giving water, which is Jesus Himself.  The two guardian angels of the grave remind us of the voice of our own hearts that is our conscience; an inner voice that always reminds us that we must be able to stay away from evil deeds and must do and keep all the good deeds.  If we never hone our conscience or our inner voice, if we continue to ignore it, then we will naturally feel barren, our soul will be so far from peaceful.

Jesus, who rebuked Mary Magdalene who was so sad and crying, in everyday life rebukes and greets us too, He is waiting for us to come to Him.  God really longs for us to be able to come home at any time, even if only for a minute. God is waiting for us to give Him thanks, not complain. God wants to see us patient and strong in facing life's problems, not despair.  In fact, it is never too late to start our new life again, it is not too late to get up from every fall.  

Come on, hurry home and look for Jesus who was thought to be the garden keeper by Mary Magdalene, so that our hearts will always be at peace and not barren and dry like an empty tomb.  God bless.

Reflection on  John 20:11-20 by Sr Yanti Purnawati SFSC
(Listen to podcast here)

Indonesian version: Tusukan

Tetapi seorang dari antara prajurit itu menikam lambung-Nya dengan tombak, dan segera mengalir keluar darah dan air – Yohanes 19: 34



Pexels.com
 

Merefleksikan perikop Injil, dimana tubuh Tuhan kita Yesus Kristus yang telah mati ditusuk oleh tombak prajurit Romawi dan dimakamkan pada kubur pinjaman. Hal ini menggerakkan saya ke inti dari luka dan rasa sakit yang telah saya timpakan kepada Juru Selamat saya, setiap kali saya memendam dosa di hati, pikiran dan roh saya. Apakah itu roh yang tidak ingin memberi pengampunan, roh nafsu, atau bahkan roh iri hati. Inilah roh-roh yang tidak kudus yang memadamkan pekerjaan Roh Kudus di hati, pikiran, dan roh saya, serta menajiskan tubuh, pikiran, dan roh saya, yang seharusnya menjadi Bait Roh Kudus. 

 

Seperti yang ditulis oleh Yesaya dalam pasalnya yang terkenal tentang Hamba yang Menderita: 

" Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan biasa menderita kesakitan. Orangpun menutup muka ketika melihat dia; demikian ia dihina dan bagi kita ia tidak masuk hitungan. Sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan disakiti Allah. Akan tetapi, dia ditikam karena pemberontakan kita, dia diremukkan karena kejahatan kita. Hajaran yang mendatangkan damai sejahtera bagi kita ditimpakan kepadanya, dan karena bilur-bilurnya kita disembuhkan. Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi Tuhan telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian" (Yesaya 53:3-6). 

 

Saya akan menutup refleksi singkat ini dengan satu lagu favorit saya oleh Hillsong: Pria yang penuh kesedihan. 

 

Pria yang Penuh Kesedihan

 

Ayat 1

Pria yang penuh kesedihan, Anak Domba Allah

Dikhianati oleh-Nya sendiri

Dosa manusia dan murka Allah

Telah ditimpakan kepada Yesus

 

Ayat 2 

Diam saat Dia berdiri tertuduh

Dipikul, diejek, dan dicemooh

Tunduk pada kehendak Bapa

Dia mengenakan mahkota duri

 

Chorus

 

Oh, salib kasar itu keselamatanku

Di mana cinta-Mu tercurah atas diriku

Dan sekarang jiwaku berseru haleluya

Pujian dan kehormatan bagi-Mu

 

Ayat 3

Diutus dari surga Anak Allah sendiri

Untuk membeli dan menebus Dan mendamaikan mereka

Yang memakukan-Nya pada kayu salib itu

(Ulangi Chorus) 

Bridge

 

Sekarang hutangku telah dibayar

Sudah dibayar lunas

Oleh darah yang berharga

Yang dicurahkan oleh Yesusku

Sekarang kutukan dosa 

Tidak lagi menguasai diriku

Yang dibebaskan oleh Anak 

Oh, benar-benar bebas

 

(Ulangi Bridge) 

(Ulangi Chorus)

 

Ayat 4

Lihatlah batu itu terguling

Lihatlah kubur yang kosong 

Haleluyah, Allah dipuji 

Dia bangkit dari kubur

 

(Ulangi Chorus)

 

https://www.youtube.com/watch?v=LZjBJuHgXPE

Dengarkan lagunya disini

Copyright

CCLI Song #6476063

Penulis lagu : Brooke Fraser & Matt Crocker

 

Refleksi dari Yohanes 19: 31-42 oleh Chris Tan


(Dengarkan podcast nya disini)